School Journey in Japan: Dulu Kenangan, Kini Jadi Impian

Bintang-chan! Bintang-chan! Ya, seperti itulah teman-teman memanggilku 15 tahun silam. Belajar dan bermain bersama teman-teman berkulit putih dan bermata sipit di sebuah negeri yang terkenal dengan sebutan “Negeri Sakura” itu adalah hal yang tidak bisa aku lupakan seumur hidup.

Aku dan Dina di acara perpisahan sekolah

Apalagi kenangan yang kulalui bersama dengan seorang sahabatku di sana, Miki Moeka-chan. Di sekolah, Moeka-chan membantuku untuk dapat berbaur dengan teman-teman lainnya walaupun aku berasal dari bangsa yang berbeda. Mereka orang Jepang, sementara aku adalah orang Indonesia. Kurumi-sensei, begitu aku memanggil guruku di sekolah, tidak pernah membeda-bedakanku dengan anak-anak lainnya. Kami memperoleh pendidikan dan pengajaran yang sama sehingga aku tidak pernah merasa “berbeda.”

bersama sensei

Tentu saja mendapatkan kesempatan bersekolah di Jepang merupakan anugrah dari Allah SWT. Namun, semua ini tidak lepas dari perjuangan orang tua tercinta. Pada waktu itu umiku sedang melanjutkan pendidikannya disana, tepatnya di Gifu University, Jepang. Oleh karenanya aku tumbuh di sana kurang lebih selama dua tahun, begitu juga dengan kakak perempuanku, Bulan.

Di usia kanak-kanak, aku bersekolah di Kurono Hoikuen, yang lokasinya lumayan dekat dengan rumah. Sekolahku memiliki tempat bermain yang sangat luas sehingga aku merasa senang bermain di sana. Selain itu, cara belajarnya pun menyenangkan. Masih segar dalam ingatan, saat aku membacakan sebuah buku cerita dongeng Jepang di depan teman-teman sekelas. Sensei memintaku untuk membacakan buku dongeng tersebut karena aku berhasil menjadi siswa pertama yang pandai membaca. Padahal untuk mampu berbahasa Jepang yang lancar aku perlu beradaptasi selama 3 bulan. Tetapi karena orang tuaku selalu menyemangati, pada akhirnya aku mampu untuk berkomunikasi dan membaca huruf hiragana Jepang dengan progress yang lumayan cepat.

bersama sahabat

Selain diajarkan untuk menulis dan membaca, aku juga diajarkan pelajaran seni dan olahraga. Waktu itu aku paling senang di kelas musik. Kami bernyanyi dan memainkan alat musik bersama. Karena di akhir tahun akan ada pentas seni yang ditampilkan di depan orang tua, aku dan teman-teman pun berlatih untuk dapat membuat orang tua bangga. Festival akhir tahun tersebut juga menampilkan karya lukis kami selama di sekolah. Selain acara festival, event ulang tahun di sekolah juga tak kalah mengesankan. 12 Mei 1999. Aku genap berusia 5 tahun. Telapak tanganku di cat merah, dan kemudian dicap ke kertas khusus yang sudah diberi ucapan khusus dari sensei. Kalau sudah tiba tahun depan, telapak tangan itu biasanya akan dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk melihat tumbuh kembang selama setahun. Nice!

galeri hasil karya bintang dan umi

Sebenarnya masih banyak lagi kenangan selama di Jepang yang benar-benar membuatku terkesan. Namun, dua tahun berlalu dan aku harus kembali ke Indonesia. Sedih sekali rasanya karena aku harus berpisah dengan Kurumi-sensei, Moeka-chan, dan teman-teman lainnya.

Sekarang aku ingin sekali menjemput kenangan dalam kotak memori yang selama ini tersimpan. Kenangan yang telah lama tersimpan itu kini telah menjelma menjadi impian. Impian yang ingin segera aku wujudkan. Aku ingin sekali kembali ke Jepang dan melanjutkan pendidikanku di sana. Bersekolah di universitas ternama di Jepang adalah impian terbesarku sekarang. Aku juga berharap untuk dapat bertemu lagi dengan semua sensei di Kurono Hoikuen, Moeka-chan, dan teman-teman lainnya. Nippon, watashi wo matte kudasai ! Zehi kuru yo….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s