Heboh Ala “TwitWar”

Benarkah twitter hanya dipergunakan untuk kemudahan akses informasi? Pada kenyataannya, ajang sosial media yang memanfaatkan 140 karakter sebagai kicauan ini tidak lagi membatasi hal-hal seputar informasi belaka. TwitWar adalah salah satu buktinya, yaitu suatu kegiatan perang kata-kata melalui media Twitter yang melibatkan beberapa penggunanya. Meski bukan hal baru TwitWar masih saja kian memanas karena kicauan bukan hanya menyangkut hal-hal pribadi, namun juga sudah mulai melibatkan isu-isu publik. Lantas betulkah TwitWar menyalahi etika berkomunikasi? Nukman Luthfie, seorang online strategist dari Virtual Consulting meninjau baik buruk dari TwitWar itu sendiri.

Hasil gambar untuk twitwar

Menurut Nukman Luthfie, ada dua kelompok yang terlibat di TwitWar. (1) Mereka yang baru belajar Twitter dan belum sadar bahwa Twitter itu wilayah publik, bukan wilayah privat. Mereka masih beranggapan  akun yang mereka miliki itu “milik mereka”. Padahal, apapun yang kita twit akan dibaca publik (atau dibaca followernya saja jika akunnya terkunci). Akibatnya, saat kita bertengkar dengan pengguna Twitter lain, follower kita dan follower yang kita ajak bertengkar berpotensi membaca TwitWar itu. Pada akhirnya, kita bertengkar di hadapan banyak orang sehingga aib kita dan aib lawan otomatis terbuka ke seluruh follower; (2) mereka yang sangat paham Twitter, dan memanfaatkan twitwar untuk keuntungan pribadi atau kelompoknya. Bagi kelompok ini, TwitWar dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah follower. Mereka biasanya lebih suka TwitWar dengan seleb atau pemilik akun Twitter yang followernya jauh lebih banyak. Jika berhasil memanasi seleb dan lalu terjadi TwitWar, biasanya jumlah followernya naik. Begitu pula dengan sebagian para politisi yang kini rajin di Twitter. Mereka berani melayani siapa saja yang mengajak TwitWar. Politisi yang biasa berdebat di TV, lincah berperang di Twitter.

Selain itu, Nukman juga memaparkan hal-hal yg harus diperhatikan oleh pengguna Twitter, diantaranya :

  1. Twitter itu ranah publik, bukan privat. Risikonya: jika kita menghina orang lain (mesti tak sengaja) bisa saja dituntut  pencemaran nama baik.
  2. Karena Twitter itu ranah publik, terapkan etika-etika di offline ke Twitter juga. Jika menghina orang lain di depan umum dianggap tidak etis misalnya, jangan lakukan di Twitter.
  3. Karena keterbatasan 140 karakter, Twitter bukan media yang ideal untuk berdebat. Salah paham dan kehilangan konteks sangat mudah terjadi di sini.
  4. Berbeda dengan pertengkaran lisan yang akan hilang bersama waktu dan lupa, twitwar akan tercatat meski bisa saja dihapus.  Namun jika terlanjur di RT, di-favoritkan, atau di-capture orang lain, akan tercatat selamanya.

Melihat pembahasan di atas, TwitWar memang terkesan negatif karena seringkali terkait dengan masalah pribadi, saling menyerang, dan membuka aib. Oleh sebab itu, twitwar jenis ini sudah sebaiknya dihindari. Namun, sebenarnya TwitWar dapat saja bermanfaat jika tidak menyangkut masalah pribadi, yaitu berkaitan dengan kepentingan umum seperti  memperjuangkan etika akademik, meningkatkan mutu pendidikan, ekonomi dan lainnya.  Sepanjang kita ahli di bidangnya, TwitWar akan mengasah logika dan kepekaan. Tetapi jika kita bukan ahlinya, kita dapat mengambil ilmu dari TwitWar tersebut.

(Bintang Bagustari/Fasilkom UI)

 

Referensi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s