Kita Manusia, Say No To Bullying!

Belum tentu, kamu lebih sukses
Dari mereka yang pernah kau tindas
Stop Bullying!
Kita bukan calon monster
STOP!

(Potongan Lagu “Stop Bullying” Cipt. Diena Haryana)

Pernah dengar istilah bullying? Pernah atau tidak, bullying sudah marak terjadi di negeri kita ini. Lebih-lebih di kalangan kaum remaja, bullying hampir tidak pernah absen sebagai kasus parah tiap tahunnya. Bagaimana tidak, perilaku bullying tidak hanya berdampak bagi fisik korban, namun juga berdampak bagi kondisi psikisnya.

Lalu apa sebenarnya bullying itu? Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka sebenarnya tidak ada satu kosakata mutlak yang bisa menjelaskan artinya. Meskipun begitu, kita bisa mengidentikkan bullying sebagai suatu penindasan, kekerasan, intimidasi, penganiayaan, ataupun pelecehan kepada seseorang atau kelompok yang dianggap lebih lemah dan tak berdaya. Bullying dapat menimbulkan rasa takut, sakit, dan tertekan baik secara fisik maupun mental yang telah direncanakan oleh pihak yang lebih kuat dan berkuasa terhadap targetnya. Bullying dapat disebabkan oleh faktor keluarga, sekolah, dan juga lingkungan pergaulan. Namun dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, akses media pun juga dapat memicu perilaku bullying. Oleh karena itu, tidak heran bila bullying kerap merajalela di lingkungan kita.

Image result for bullying

iStock

Membudayanya perilaku bullying seolah menjadi sebuah ‘trend’ tanpa memandang pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan. Padahal, bullying merupakan suatu tindakan tidak manusiawi yang merendahkan seseorang/kaum tertentu. Fenomena seperti inilah yang mendorong lunturnya kerukunan antarmanusia karena tidak adanya kesadaran masing-masing. Sebagai sesama manusia, sudah selayaknya kita saling menghormati dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Lalu bagaimana dengan ‘trend’ bullying yang terjadi saat ini? Itu artinya sudah banyak manusia yang tidak selayaknya dikatakan manusia. Mereka seolah memakai topeng manusia namun jika topeng itu dibuka maka mereka bagaikan monster yang siap menerkam siapa saja. Inilah yang Diena Haryana coba ungkapkan dalam lagunya yang berjudul “Stop Bullying” di atas. Mengerikan memang, tapi itulah kenyataannya.

Di samping itu, bullying dapat dikatakan sebagai suatu penyakit menular. Buktinya, seorang yang di-bully bisa switch menjadi seorang pelaku bullying. Penyebabnya adalah ia menginginkan orang lain merasakan apa yang telah ia rasakan sebelumnya. Selain itu tidak sedikit pelaku bullying yang mengaku bahwa mereka hanya ikut-ikutan teman dan mengatakan hal tersebut just for fun. Karena itu, perilaku ini dapat dikatakan sebagai suatu siklus yang tiada habisnya.

Oleh sebab itu, bullying harus dihentikan. Siklus yang terjadi harus segera diputus sehingga tidak akan ada lagi perkara berkepanjangan. Tetapi apa yang diperlihatkan pada kita dewasa ini? Media seolah memberikan push untuk membudayakan bullying, suatu perilaku yang sama sekali tidak manusiawi ini. Lebih-lebih media televisi, terutama sinetron. Perilaku seperti mengejek, memaki, dan menggosipi orang lain kerap kali menghiasi wajah persinetronan Indonesia. Tayangan yang diperlihatkan membuat masyarakat mengambil persepsi bahwa tindakan seperti bullying adalah tindakan yang wajar untuk dilakukan. Tanpa sadar mereka akan mudah untuk meniru perilaku tersebut terutama remaja dan anak-anak.

Penanaman persepsi semacam ini dapat dikatakan sebagai pembunuhan karakter bagi seseorang. Dengan mudahnya tayangan ini ‘membodohi’ masyarakat melalui adegan-adegan tak pantas yang sering ditonjolkan. Tidak hanya itu, penayangannya pun berada pada waktu-waktu strategis dimana keluarga sering berkumpul untuk menonton televisi. Sangat ironis memang, jika tayangan tersebut menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Lalu apa yang terjadi setelah ini? Ketika adegan-adegan tersebut masuk ke alam bawah sadar mereka, terbentuklah karakter yang ada dalam adegan tadi di dalam pribadi mereka. Ironisnya lagi, kesadaran akan rasa kemanusiaan pun berkurang terkait dengan tayangan kekerasan yang sering dipertontonkan di televisi. Tak heran bila semakin banyak pemberitaan di media mengenai tawuran antarpelajar, kenakalan remaja, pelecehan seksual, dan lain sebagainya yang seolah meniru aksi dari pemeran sinetron yang ditayangkan di televisi.

Bagi televisi swasta khususnya, keuntungan dan rating seolah dianggap sebagai prioritas utama. Acara yang disuguhkan pun tak lagi memiliki kualitas yang bisa diharapkan untuk membangun para generasi bangsa. Sinetron televisi yang selalu ditayangkan setiap jam selalu dipenuhi alur cerita yang jauh dari kesan mendidik sangat mendominasi. Bahkan sinetron dengan tema anak sekolah yang urakan, percintaan remaja yang berlebihan, anak durhaka yang sering membantah orang tua, dan perebutan harta dengan kekerasan banyak mendapat perhatian dari pemirsa setianya sehingga memiliki rating yang bagus. Namun, sadarkah mereka bahwa acara yang mereka saksikan dengan frekuensi tinggi itu sarat akan unsur bullying? Inilah fakta buruk yang terjadi, hilanglah sudah harapan masyarakat intelektual untuk menikmati angin segar dari siaran televisi yang berkualitas dan beragam.

Di samping karena tayangan sinetron, sebenarnya masih banyak lagi faktor penyebab dari membudayanya perilaku bullying. Faktor terpenting adalah keluarga. Sudah seharusnya orang tua menanamkan rasa kemanusiaan yang tinggi pada anak-anaknya seiring pertumbuhan dan perkembangan yang ada. Biasanya, anak-anak korban bullying lebih menutup diri dalam menceritakan segala hal yang menimpa dirinya.  Jadi, orang tua perlu bersifat terbuka kepada anak-anaknya agar cepat mengatasi masalah yang timbul di kemudian hari.

Jika perilaku bullying dibiarkan menjadi sebuah tradisi, maka dampaknya tidak hanya berbahaya, tapi juga dapat mematikan. Seorang korban bullying mendapatkan kerugian dari segi fisik, apalagi psikis. Secara fisik, besar kemungkinan korban akan terus merasakan sakit kepala, flu, batuk, sakit tenggorokan, luka-luka, dan rasa sakit pada daerah dada. Sementara itu dari segi psikis, korban bully akan merasakan depresi, minder, trauma, stress, bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Begitulah dahsyatnya dampak buruk yang diakibatkan oleh perilaku bullying.

Lalu apakah kita akan membiarkan tradisi buruk ini berlanjut terus menerus? Apakah kita tega menghancurkan martabat seseorang begitu saja? Apakah kita bisa tahan melihat begitu banyak monster-monster bertopengkan manusia yang melakukan hal semena-mena? Apakah kita mau mengorbankan banyak jiwa hanya karena keuntungan semu semata? Hanya satu kata jawabannya, yaitu TIDAK. Kita harus membuka mata lebar-lebar karena kita adalah manusia, manusia yang dikaruniakan akal dan hati nurani oleh Tuhan semenjak kita diturunkan ke dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s